Nafas

Tuan bertanya, kenapa saya selalu ingin tinggal lebih lama. Tanpa ragu, canggung, atau malu. Saya yakinkan Tuan bahwa mekanisme tubuh saya sudah didesain sesuai dengan maunya hati.

Tuan mengangguk, (pura-pura) percaya.

Kita merangkai kisah-kisah romantis, seperti para tokoh di negeri dongeng. Sesekali saya mengusulkan aksi heroik, Tuan setuju, saya tersanjung.

Menggebu, seakan bisa menaklukkan semesta dan segala isinya.

Beberapa hari kemudian Tuan menghilang, membuat saya menangis sesenggukan. Tanpa air mata, atau keluhan berkepanjangan.

Saya meyakini Tuan lebih dari apapun.

Tanpa jejak, terperangkap, lalu terjerembab. Tuan sungguh piawai memanipulasi hati. Hebat, besok kita duet di opera.

“Belajarlah melepas yang menghambat kita bernafas” katanya.

Duh Gusti, besok-besok kami ndak usah diberi hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.