Menyikapi Isu Prostitusi Secara Bijak

Guys, menurutku akhir-akhir ini pemberitaan media tentang penyintas prostitusi online udah keterlaluan banget sih. Mungkin karena melibatkan beberapa artis kali ya, jadi isunya naik daun udah kayak pemberitaan pemilu yang bentar lagi mau digelar.

Salah satu saksi dalam kasus ini, VA yang dikenal sebagai aktris FTV — mulai saat itu harus dibanjiri berbagai cercaan karena sudah ikut terseret dalam transaksi prostitusi online yang dilakukannya di Kota Surabaya.

Nah, kalian termasuk tipe yang ikut menghujat VA atau gimana nih?

Secara manusiawi, kalian pernah mikir gak sih se-gimana traumanya dia dalam menghadapi masalah sebesar ini. Apalagi sanksi sosial di Indonesia yang cukup konservatif, ditambah dengan perkembangan media sosial yang dipenuhi oleh netizen² bermulut jahat 😔

Oh iya, tadi saya nemu tulisan yang bagus nih lewat broadcast WA. Kalian harus ikut baca, biar paham kalo VA juga punya hak untuk memperbaiki masa depannya. Jadi jangan terus-terusan di-bully dan dicaci, doi juga punya hati, dan kesehatan mentalnya juga harus dijaga.

Kalian pernah bayangin gak, gimana kalo VA putus asa dan memilih untuk bunuh diri karena berbagai nyinyiran dari netizen dan citizen?

Hayoh loh, yuk mulai buka mata untuk sesama manusia. Jangan gegabah.


Siaran Pers Komnas Perempuan Mengenai Kasus Prostitusi Online dan Penyebutan Nama Korban

7 Januari 2019

Komnas Perempuan mendapatkan berbagai pengaduan dari masyarakat tentang maraknya pemberitaan prostitusi online yang terjadi khususnya yang melibatkan artis.

Protes masyarakat menyatakan bahwa *pemberitaan* yang terjadi sangat sewenang-wenang dan tidak mempertimbangkan pihak perempuan yang terduga sebagai korban beserta keluarganya. Selain nama dan wajah, juga disebutkan identitas keluarga mereka.

Komnas Perempuan telah melakukan sejumlah pemantauan dan pendokumentasian tentang berbagai konteks kekerasan terhadap perempuan (KtP) yang berhubungan dengan industri prostitusi atau perempuan yang dilacurkan (Pedila). Mereka adalah perempuan korban perdagangan orang, perempuan dalam kemiskinan, korban eksploitasi orang-orang dekat, serta perempuan dalam jeratan muncikari, bahkan bagian dari gratifikasi seksual. Sekalipun dalam level artis, kerentanan itu kerap terjadi.

Prostitusi Online kami khawatirkan sebagai bentuk perpindahan dan perluasan lokus dari prostitusi offline. Prostitusi online menyangkut soal cyber crime yang berbasis kekerasan terhadap perempuan, terutama kasus revenge porn (balas dendam bernuansa pornografi) yang dapat berupa distribusi image atau percakapan tanpa seizin yang bersangkutan. Dalam catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2018 pengaduan langsung menyangkut revenge porn ini semakin kompleks.

Selain itu, perlu ada kajian mendalam karena tidak sedikit yang menjadi korban femicide (dibunuh karena dia perempuan) atau mengalami kematian gradual karena kerusakan alat reproduksi. Karenanya Komnas Perempuan berkesimpulan bahwa prostitusi adalah kekerasan terhadap perempuan, namun Komnas Perempuan menentang kriminalisasi yang menyasar pada perempuan yang dilacurkan.

Komnas Perempuan telah melakukan analisa pada sejumlah media yang telah melanggar kode etik jurnalisme, serta pemuatan berita yang sengaja mengeksploitasi seseorang secara seksual, terutama korban. Dalam analisa media tersebut, masih banyak media yang saat memberitakan kasus kekerasan terhadap perempuan, utamanya kasus kekerasan seksual, tidak berpihak pada korban.

Komnas Perempuan menyayangkan ekspos yang berlebihan pada perempuan (korban) prostitusi online, sehingga besarnya pemberitaan melebihi proses pengungkapan kasus yang baru berjalan

Pemberitaan seringkali mengeksploitasi korban, membuka akses informasi korban kepada publik, sampai pemilihan judul yang pada akhirnya membuat masyarakat berpikir bahwa korban ‘pantas’ menjadi korban kekerasan dan pantas untuk dihakimi.

Oleh karena itu Komnas Perempuan menyatakan sikap:

1. Agar penegak hukum berhenti mengekspos secara publik penyelidikan prostitusi online yang dilakukan.
2. Agar pihak media tidak mengeksploitasi perempuan yang dilacurkan, termasuk dalam hal ini artis yang diduga terlibat dalam prostitusi online
3. Agar media menghentikan pemberitaan yang bernuansa misoginis dan cenderung menyalahkan perempuan
4. Agar masyarakat tidak menghakimi secara membabi buta kepada perempuan korban ekspoitasi industri hiburan.
5. Semua pihak untuk kritis dan mencari akar persoalan, bahwa kasus prostitusi online hendaknya dilihat sebagai jeratan kekerasan seksual dimana banyak perempuan ditipu, diperjualbelikan, tidak
sesederhana pandangan masyarakat bahwa prostitusi adalah kehendak bebas perempuan yang menjadi “pekerja seks” sehingga mereka rentan dipidana/ dikriminalisasi.

Narasumber (Komisioner Komnas Perempuan)
1. Mariana Amiruddin
2. Budi Wahyuni
3. Indri Suparno

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.