Hei, Untung Waras!

Hujan, petir, dan lampu-lampu yang mati. Seketika aku ingat kamu, yang dengan sukarela selalu meminjamkan jaket tebalnya untuk kupakai sampai matahari datang sambil berjinjit.

Dulu, hampir dua belas hari kau tidak pernah membiarkanku menjauh dari ragamu yang mungil. Kita berbaring dengan lelap, diselingi tas kecil yang selalu kau bawa kemanapun.

“Pake Re” ucapmu berulang kali, saat menawarkan sebelah headset untuk kupakai sambil melancong ke dunia mimpi.

Lagi, kau selalu memutar lagu-lagu yang sama. Musik klasik yang kadang-kadang mengalun tanpa lirik.

“Aku rindu masa-masa kayak gini, Re” tambahmu suatu hari, satu tahun setelahnya.

“Maksud kakak?”

“Ya, aku rindu kamu, tenda, dan musik klasik. Dulu kita selalu bercerita tentang apapun, semalam suntuk” aku diam, berusaha untuk mencerna kata-kata magis yang terdengar sedikit menjijikan.

“Jangan membual” balasku dengan suara lirih.

“Re, percayalah” kemudian matamu berusaha untuk bercerita tentang semuanya.

“….”

“Aku tulus” kemudian

“Sial, aku kalah”

Lagi-lagi, kau mendapat kesempatan kedua, ketiga, dan keempat.

Lalu, aku kembali jatuh ke pelukan yang salah.


Hei, untung waras!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.