Dusta

Sebenarnya, aku tidak pernah memenangkan apapun dari perdebatan kita setiap malam.

Kau akan kembali kepadanya setiap kali pulang dengan hati yang hampa, dan aku akan kembali kepadanya setiap kali pergi bersama jiwa yang sepi.

Kita, hanya sepasang manusia yang tidak pernah saling menginginkan.

Kau hanya kenangan masa lalu yang menempel erat di kedua telapak sandalku. Jika saja kuasa, ingin kulepas keduanya lalu berlari di atas jalan penuh duri.

Namun, aku hanya akan menjadi pihak yang paling terluka atas apapun.

I lost you, but I found me. So, I win.

Padahal dusta.

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. layangseta says:

    Menempel erat di telapak sandal? Wih kotoran donk

    Liked by 1 person

      1. layangseta says:

        Konotasi nya seperti itu, sesuatu yang ada di bawah sandal itu kotor dan perlu untuk dibersihkan

        Liked by 1 person

      2. “perlu untuk dibersihkan” memang

        Liked by 1 person

      3. layangseta says:

        tak berguna berarti ya, bersihkan, buang dan lupakan

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.