Menunggu.

Malam itu, Aray mungkin tidak tahu kalau saya tengah menghabiskan waktu dengan mereka — keempat teman yang saya temukan di salah satu kota terpanas di Jawa Tengah.

“dia adalah orang yang senantiasa menghabiskan hidupnya untuk menunggumu, Sa” ujar Miko dengan mata menerawang.

Kadang, saya selalu berharap untuk dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar bisa membaca masa depan. Dengan tingkat akurasi 90/100, tak apa. Walau si naif ini selalu berusaha menampik peluang gagal 10/100.

It’s alright!

Lalu Tuhan mentakdirkan saya untuk berkenalan dengan Miko, salah satu mahasiswa peternakan di Universitas Soedirman. Ahli penerawang, dengan tubuh gempal dan pipi chubby.

Oh iya, berbicara perihal menunggu, aku sedikit tersinggung dengan satu kata yang menyimpan banyak magis itu.

Bukankah, kita memang terlahir untuk saling menunggu?

Perihal jodoh mari kita sepakati sejenak, bukankah kita memang tengah menunggu untuk memecah misteri tentang siapa yang akan mempersunting atau dipersunting?

…dan tentang kematian, kita hanya orang bodoh yang tengah diberi kesempatan untuk menghitung mundur waktu. Menunggu teka-teki tentang siapa yang akan menangisi atau ditangisi.

Sesederhana itu, memang!

Alun-alun Kota Kebumen, 30 Juni 2018.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s