Aray #4

Saya, tentu tidak akan pernah bosan menulis apapun untuk Aray. Bahkan saat prosa keempat tertinggal karena lupa, saya tidak akan pernah mengeluh untuk menulis prosanya hingga jutaan kali.

Aray adalah candu yang tertahan oleh masa, lalu ditekan massa hingga puluhan tahun kemudian.

Ia adalah tokoh protagonis yang senantiasa saya puja, dalam suka ria dan duka cita

….lantas, semoga Tuhan turut menyatukan doa-doa yang kami layangkan malam ini.

Saya merindukanmu, sungguh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.