Aray #5

Aray, kekasihku.

Malam ini, kukirim secarik surat berdiksi ringan – gelagat bisu yang selalu kutulis di tengah hening.

Namun sungguh semua rindu akan selalu bermuara kepadamu. Dalam dekapan semesta, dengan aliran dingin yang menusuk semua kenangan.

Maaf, karena pernah diam-diam melirik seseorang. Tanpa menunduk, atau memohon ampun kepada-Nya dengan nada lirih yang tertahan.

Aray, kekasihku.

Sungguh aku bukan seorang pembelajar yang baik, yang mampu menggunakan 22 tahun penantiannya untuk memperbaiki diri dengan cara yang layak.

Sekali lagi, maafkan aku. Namun kelak, tetap lah sabar untuk berjalan di depanku, atau beriringan dengan langkah yang sama

….sampai kita tua, sampai jadi debu. Ku di liang yang satu, kau di sebelahnya.

Selamat malam, hiduplah dengan baik. Semoga Tuhan memperkenankan kita dalam sebuah pertemuan yang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.