Mutiah, Wanita Pertama yang Masuk Surga Setelah Istri-istri Nabi

Tiba-tiba tergiur untuk mengucapkan salam 😂😂 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahanNya terlimpah kepada kalian) 😀😀
Hai, selamat sore. Hari ini esa lagi beruntung, beberapa menit yang lalu baru nonton YouTube dan secara tidak sengaja dapat cerita yang menakjubkan.

Jujur, nama dan kisahnya aja esa baru denger 😭

….lalu terharu, jadi pengen cepet-cepet nikah wkwkwk. Apa sih .-.

Oh iya, cerita yang esa tonton adalah tentang Mutiah, wanita muslimin yang tinggal di pinggiran Madinah beberapa abad lalu.

Menurut sabda Nabi Muhammad SAW., beliau adalah wanita pertama yang akan menghuni surga setelah ummahatul mukminin (istri-istri Nabi).

Fatimah Az-Zahra (anak Rasulullah), kemudian merasa penasaran dan berkeliling kota sampai beberapa hari untuk menemui Mutiah dan bersilaturahim dengan wanita mulia itu.

Ketika menemukan rumahnya, Fatimah yang kala itu membawa anaknya (Hasan) kemudian mulai mengetuk pintu.

“Assalamualaikum, wahai pemilik rumah”

Waalaikumsalam, siapa di luar?”

“Saya Fatimah Az-Zahra, Putri Nabi Muhammad SAW”

Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi Putri Nabi junjungan alam semesta”

Mutiah lantas membuka sedikit pintu rumahnya dan menengok siapa saja yang sedang menunggu di depan pintu.

Setelah melihat Hasan, Mutiah lantas menutup kembali pintu rumahnya.

“Wahai Mutiah, apakah engkau tidak memperkenankanku untuk masuk ke rumahmu?”

“Wahai Fatimah, maafkan aku. Bukannya aku tidak membolehkanmu untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadaku. Hanya saja, menurut aturan yang disampaikan Rasulullah SAW, seorang wanita tidak boleh memasukkan laki-laki ke dalam rumah ketika suaminya tidak ada atau tanpa seijin suaminya”.

Fatimah mengerti dan mengagumi ketaatan Mutiah kepada Allah, beliau mengikuti aturan yang sudah disampaikan Nabi. Walau dalam kasus ini Hasan bahkan masih berumur 5 tahun.

“Maafkan aku Fatimah, kembalilah esok hari. Aku akan meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku”

Keesokan harinya Fatimah kembali mengunjungi rumah Mutiah, namun karena Husein (adik Hasan) rewel dan tidak mau ditinggal, maka Fatimah membawa serta Husein untuk mengunjungi Mutiah. Berhubung Husein masih lebih muda dari Hasan, Fatimah berpikir mungkin Mutiah akan mengijinkannya membawa Husein.

Fatimah mengetuk pintu. Sedikit mengintip, Mutiah kemudian kembali menutupnya.

“Wahai Mutiah, kenapa kau tidak mau menerima kunjungan ku lagi?”

“Fatimah, aku tidak tahu jika engkau membawa serta Husein. Aku belum meminta ijin kepada suamiku atas nama Husein, aku hanya memintakan ijin untuk Hasan. Kembalilah esok hari”.

Fatimah lantas kembali ke rumahnya dengan rasa haru luar biasa.

Di hari ketiga Fatimah datang lebih sore, Mutiah kemudian mempersilahkannya masuk.

Ada sesuatu yang berbeda dari Mutiah, dia terlihat begitu cantik. Baru selesai mandi, berdandan, memakai parfum, dan menggunakan pakaian bagus.

Tidak lama kemudian suami Mutiah pulang, ternyata penampilan itu diperuntukkan untuk suaminya.

Mutiah menyambut suaminya dengan senyum kasih sayang. Hal itu tentu berguna untuk mengurangi beban pikiran suami sehabis bekerja.

Keesokan harinya Fatimah datang lebih sore ke rumah Mutiah, dengan harapan bahwa suami Mutiah sudah pulang dari pekerjaannya.

Perkiraan Fatimah benar!

Ketika suaminya pulang, Mutiah langsung mengantarkannya ke kamar mandi dan memandikannya. Lengkap dengan membawa serta pakaian bersih untuk ganti.

Setelah itu, beliau mengantarkan suaminya untuk menikmati makanan dan minuman yang telah ia persiapkan seharian penuh.

Mutiah pergi keluar rumah kemudian kembali dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter.

Berkatalah ia kepada suaminya,

“Wahai suamiku, aku telah menyiapkan makanan dan minuman ini seharian. Jika makanan dan minuman ini membuatmu merasa tidak berkenan, maka hukumlah aku dengan cambuk ini”.

Hari itu Fatimah pulang dengan tangisan haru, beliau tidak merasa penasaran lagi dengan sosok Mutiah.

Wanita shalihah itu memang layak dimuliakan atas keistiqomahannya pada anjuran Nabi dan pengabdiannya kepada suami.

Wallahu’alam, semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa dan diberi syarat di akhir zaman.

Semoga tulisannya bermanfaat, yang menulis belum tentu lebih baik dari yang membaca. Tapi yang membaca sudah pasti lebih baik dari yang belum pernah baca 👻👻 Itu juga kata orang 😂😂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s