Surat Kaleng dari Kosan Bapak Hidayat

Assalamualaikum warahmatullahi wabakatuh, teruntuk seseorang — dalam sebuah pencarian panjang.

Selamat malam, Bandung dingin sekali malam ini. Mungkin fungsi ekologis Bandung Utara tidak seburuk yang sedang dikhawatirkan oleh orang-orang.

Entah, semoga saja.

Ah iya, bagaimana kabarmu? Saya harap baik, masih dengan jutaan mimpi yang tidak sabar untuk diwujudkan cepat-cepat

….tetaplah melangit. Kalau bisa, simpanlah baik-baik di lapisan termosfer, biar ia membaur dengan Aurora Borealis di langit Utara. Indah,

–oo0oo–

Tuan, saya bodoh ya?

Maaf karena sudah membuatmu kaget, padahal pagi itu langit masih semangat dan sudah berdandan cantik. Pun Matahari yang juga tidak sabar untuk ditengok dengan hati yang senang.

Bisikan setan dan hawa nafsu sudah berhasil membuat saya tertidur tanpa membaca ‘bismika….’ terlebih dahulu.

Padahal waktu itu seharusnya saya keluar rumah dan ikut menikmati WiFi gratis di gedung Nu’man Somantri, bukan malah tertidur tanpa selimut dan bantal biru.

Seharusnya saya tidak merasa se-menyesal ini

….sayang, waktu itu bayangan tuan turut hadir dalam mimpi buruk (setengah matang).

Setelah berkutat dengan masa-masa sulit, akhirnya saya bebas. Namun saat pertama kali berhasil membuka mata, orang yang saya ingat adalah tuan. Hingga tanpa sengaja menanyakan kabar dengan sikap yang tidak tahu malu. Ah salah, waktu itu saya memberi kabar dengan mata sayu setengah sadar.

‘refleks aja gitu ih, eh terus habis itu hapenya mati. Chargernya rusak sampe beberapa hari berikutnya

Padahal saya perempuan, yang pernah dididik untuk mempertahankan kehormatan dan rasa malu di depan laki-laki.

Sungguh, semua terjadi di luar batas kesadaran saya sebagai perempuan (yang pernah diajarkan tentang hal ini)

….ah iya, kemudian semua diperparah dengan kondisi gawai yang tiba-tiba rusak. Saya harap alasan itu cukup logis untuk mengantarkan pesan klarifikasi ini, semoga.

Tadinya saya sempat berpikir untuk menjelaskan semuanya secara ‘langsung’. Tidak jadi, malu.

By the way, pesan balasan dari tuan saja belum saya tengok sedikitpun. Malu.

Ingin saya balas dan klarifikasi dengan pesan singkat, seperti biasa. Tidak jadi, malu.

Saya lebih nyaman untuk membuat pesan kaleng seperti ini, setidaknya saya hanya perlu mengirimkan link-nya saja. Toh keputusan untuk ‘membaca’ atau ‘tidaksemua akan tunduk berdasarkan ilham wkwk.

Haruskah saya ceritakan juga isi mimpi buruknya? Atau tidak usah? Ya sudah,

jaga kesehatan, jangan sakit, hancur, apalagi lebur. Hati-hati dalam bersikap, bertutur, dan berpikir. Banyak orang jahat yang ingin merampas kenyamanan hidup dari orang-orang baik.

Saya tahu kalau tuan adalah orang yang baik, semoga.

Terima kasih karena sudah betah membaca sampai titik (yang ke tiga puluh ini).

Setelahnya, bisa kah saya kembali untuk berpura-pura bodoh? Kalau iya, saya ucapkan terima kasih untuk yang ke sekian.

Selamat malam, selamat tidur.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabakatuh. Dari kosan Bapak Hidayat, mantan Ketua RW di Kelurahan Ledeng. 29 Mei 2018, pukul 23.52 WIB.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s