Lalu Saya Harus Bagaimana?

Saya masih betah, duduk berlama-lama di bangku hitam itu. Sambil sesekali melirik layar gawai, melamun, lalu melirik kembali layar itu.

Nyatanya, walau ketiga teman saya sedang asyik ngobrol tentang apapun. Saya tidak berniat untuk ikut larut dalam obrolan hangat mereka, malah terjebak dengan pertanyaan:

“Jadi saya salah apa sama hidup?”

Ah iya, jadi beberapa bulan ini saya memang sedang sibuk-sibuknya mencari nafkah. Tujuannya, biar bisa jajan di Ayam Nelongso pake duit pribadi, dan nabung sedikit-sedikit buat sekolah adek.

Bodoh memang! Saat orang-orang seusia saya sibuk menyelesaikan skripsi dan bimbingan, saya malah meluangkan seluruh waktu saya untuk mengajar anak-anak SMA

….entah untuk belajar biasa, UN, SBMPTN, serta olimpiade.

Saya lupa berapa kali saya bisa tidur nyenyak tanpa berpikir ‘besok harus ngajar apa?’

Bentrok jadwal pasti bikin bingung sekaligus sedih. Kadang mikir, andai Tuhan ngasih saya waktu 48 jam dalam sehari. Setengahnya untuk ngajar dan cari duit, setengahnya untuk ngerjain skripsi dan bimbingan.

Tapi itu mimpi. Iya, saya tau!

Entah sudah berapa kali saya absen ikut kegiatan di OPA, entah sudah berapa orang yang turut menggunjingkan. Atau entah sudah berapa pihak yang merasa saya rugikan atas segala hal sunnah yang belum sempat saya kerjakan.

Suatu hari,

“kerja terus sampe mampus” kata salah satu teman, tanpa emoticon apapun. Perkataan yang sangat kasar, membekas dan membuat hancur tiba-tiba.

“Jadi saya salah apa sama hidup?”

Toh bukan saya gak mau ngerjain skripsi dan hangout malam-malam bareng kalian. Bukan mau saya untuk pergi subuh dan pulang magrib cuma untuk ngajar dan cari duit.

Bukan mau saya!

Namun hidup ingin saya tumbuh jadi lebih kuat dan mandiri. So, jangan asal judge orang dari cover-nya.

“Kamu gak bakal bisa lulus cepet kalo terus-terusan ngajar kek begitu” kata seseorang tempo hari. And then, saya lagi-lagi ngerasa jatoh. Apalagi yang bilang kek gitu adalah salah satu guru yang paling saya percaya.

Why sih?

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula!

Ya, ya, ya. Lalu kebutuhan mendesak lagi-lagi datang, uang yang terkumpul untuk sekolah adik lagi-lagi harus dikuras habis

….alasannya, karena tiba-tiba bapak pergi tanpa meninggalkan uang jajan untuk keluarga kecilnya. Berhari-hari, entah kemana rimba.

Saya pulang, langsung. Diam-diam berharap dua orang yang saya titipkan uang tiba-tiba ingat dan ingin menunaikan kewajibannya.

Tapi ya gitu, jangan berharap pada manusia.

“Jadi saya salah apa sama hidup?”

Tiba-tiba Si A beli lisensi bisnis seharga 2,2 juta. Lalu Si B ketahuan belangnya karena sudah biasa menahan gaji para pegawainya.

Ah, lalu saya harus bagaimana?

P.S. semoga Anda berkenan untuk tidak mengomentari tulisan ini. Terima kasih ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.