Arai.

“Tidurlah” ucapnya dengan nada lirih.

Seketika, ingin saya peluk tuan dalam keputusasaan yang terlampau berat. Lalu jatuh sekalian, koma atau setidaknya jadi hilang ingatan

….namun untuk sekian yang ke sekian kalinya, keputusasaan berhasil saya hiraukan. Hingga selalu terefleksi dalam seutas senyum dengan wajah tertunduk.

Saya malu, takut tuan sadar kalau saya benar-benar menginginkan diri tuan.

Saya takut jika hubungan pertemanan yang terjalin selama tujuh tahun, hilang tak berbekas hanya karena cinta monyet ala gorilla yang baru saja putus cinta.

“Hari sudah malam”

“….”

“ikan bobo” katanya meniru lirik salah satu iklan obat zaman dulu.

“….”

“….”

“Jangan pergi” saya mulai hilang arah.

“….” kemudian tuan hanya membalasnya dengan senyum.

“Tetaplah disini”

“….”

“Jangan pergi” tiba-tiba angin menusuk hingga ke pelupuk. Ada perih yang meronta ingin diakui.

“….”

“….”

“Tidak mungkin, tidurlah. Dia akan menjagamu”

Iklan

2 tanggapan untuk “Arai.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s