Kata Larangan.

“kita putus ya, soalnya aku mau fokus UN dulu”

“….”

“eh kita udahan ya, soalnya aku mau fokus persiapan masuk kuliah”

“….”

“kita putus bisa gak? Soalnya aku mau fokus sama skripsi”

“….”

“….”

Hadeuh! Urang diputuskeun maneh gara-gara nu kieu, kata terlarang eta teh euy

Kemudian mereka berubah jadi sepasang orang asing yang tidak sempat saling bertegur sapa lewat kata perpisahan yang (seharusnya) layak

….yang satu merasa bersalah, yang satu masih dihantui rasa penasaran yang tidak kunjung habis.

Setelah begini, jadi salah siapa?

“Sa, aku emang udah gak sayang sama dia. Daripada nyakitin hatinya dia, mending aku putusin cepet-cepet”

“terus kenapa harus pake kata terlarang”

“soalnya aku mau jaga harga diri dia, biar dia paham kalo semua hubungan ini berakhir hanya karena mekanisme hidup, bukan karena mekanisme cinta yang sangat manusiawi”

“terus?”

“ya setidaknya sehabis putus, dia tidak akan menyalahkan diri, tapi menyalahkan segala tuntutan hidup”

“lalu kamu akan tinggalkan ia dalam keadaan mati penasaran?”

“ya suruh siapa banyak berharap?”

“suruh siapa kamu bikin dia seakan-akan harus nunggu”

“aku gak pernah nyuruh dia nunggu”

“kamu bilang mau fokus skripsi, idealnya sehabis skripsi kamu bakal balik sama dia. Iya kan?”

“….”

“janji itu hutang, kalau mau putus carilah kata yang benar-benar akan mengakhiri semuanya”

“….”

“jangan berubah jadi serigala berwajah domba”

“….”

“kamu mungkin mampu hidup dengan nyaman, dengan segala keadaan yang sudah kamu atur sesuai kehendak hati. tapi dia?”

“kan udah aku bilang Sa, suruh siapa nungguin aku?”

“ya masalahnya emang kamu yang nyuruh!”

“bukan” belanya keras kepala

“ya sudah, orang yang pergi memang akan selalu membenarkan semua langkah kepergiannya. Silahkan, diskusikan saja dengan hatimu, jangan lupa pilih bagian hati yang paling bersih”

“….”

“karena sesuatu yang dibicarakan oleh hati adalah sesuatu yang dibicarakan oleh ruh. Sedang ruh adalah bagian dari penciptaan yang ditangani langsung oleh Tuhan, dia adalah penegak kebenaran yang sesungguhnya”

“….”

“jadi jangan terlalu hidup tenang dalam kenyamanan palsu, karena akan ada hati yang tidak pernah tenang karena semua yang sudah kamu katakan”

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. Kinan Manis says:

    Jleb banget, Mbak kalimat terakhirnya.

    Liked by 1 person

    1. lutviaresta says:

      Haha iya kali yak

      Like

  2. wapenk says:

    πŸ˜²πŸ˜‚

    Like

  3. Hilma Indriani says:

    Eddaaan (ups!) gini… Kata-katanya pagi-pagi bikin saya πŸ˜¬πŸ˜πŸ˜†πŸ˜‚..
    Salam kenal mbak esa.

    Liked by 1 person

    1. lutviaresta says:

      Haha salam kenal πŸ‘ŒπŸ˜

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.