Kenyataan (5A) #14

“Namanya Nadia” seseorang mengagetkanku saat tengah sibuk memperhatikan foto Alfis dengan gadis cantik berbaju SMA.

“Oh ibu” aku berusaha tersenyum menyembunyikan kebingunganku.

Wanita setengah baya yang terlihat masih cantik itu kunamai Ibu Jawa. Kami baru berkenalan kemarin sore. Sebenarnya niatku pergi ke Malang adalah untuk mendaki bersama teman besok pagi. Tapi tidak jadi, seseorang mengacaukan rencana dan malah mengajakku menginap di rumah Ibu Jawa ini.

Intinya, sampai saat ini aku belum sempat menanyakan nama asli Ibu Jawa. Kujuluki begitu karena memang wanita ini memiliki sikap dan wajah ayu khas Jawa.

“Kamu kenal sama Nadia, nak?” Ibu Jawa mengelap bingkai foto itu dengan ujung bajunya. Sebenarnya benda yang dia lap tidak kotor, hanya perasaan khawatir ibu itu saja mungkin.

“Sebenarnya enggak sih bu” aku menggaruk kepala tidak gatal.

“Sini ibu ceritakan”¬†aku mengikuti langkahnya menuju satu kamar di sudut paling kiri rumah.

“Wah….” aku tersentak melihatnya. Nadia ternyata tipikal orang sepertiku. Pemimpi! Semua target hidup, lukisan, ilustrasi, karikatur, naskah fiktif, dan perasaannya dia tuliskan untuk menghiasi dinding-dinding kamarnya.

“Ini kamar Nadia, nak. Dia adalah gadis baik yang periang, tidak pernah mengeluh sedikitpun kalau sakit. Bahkan kami tahu penyakitnya juga setelah dia kritis di rumah sakit” perlahan Ibu Jawa menitikkan airmata.

“Sabar ya bu” aku mengelus pundaknya dan mencoba menguatkan walau belum mengerti titik fokus pembicaraan itu.

“Oh iya, ibu lupa. Nadia pasti akan marah kalau ibu nangis, apalagi di kamarnya” Ibu Jawa itu mengusap ujung matanya yang berair, lantas berusaha tersenyum hambar.

“Nadia itu sakit apa, bu?” sebenarnya aku ragu untuk bertanya.

“Lupus, nak” tercecang, lima tahun yang lalu aku juga dikagetkan dengan kepergian sepupuku yang terkena lupus. ‘Kenapa bisa?’ tanyaku dalam batin.

“Bu, aku boleh tanya sesuatu?” tanyaku hati-hati.

“Mau bertanya apa, nak?” wanita itu balik bertanya dengan lembut.

“Sebenarnya ibu siapanya Alfis?” alisnya terangkat, dan aku mulai gelagapan. “Maksud aku, kenapa Alfis bisa punya dua ibu? Ibu Ratih dan Ibu….” aku berhenti, bertanya.

“Mala. Nama saya Mala, nak”
“Iya, Ibu Mala” aku tertunduk, kemudian Bu Mala meraih tanganku. Pergi.
“Mari ikut ibu, nak”.

Bu Mala mengajakku ke luar rumah. Di pekarangan belakang yang belum sempat kutengok, ternyata ada sebuah kamar khusus. Kamar yang juga ber-khas Jawa itu nampak anggun sendiri. Berdiri di tengah kebun bunga yang senantiasa dirawat setiap harinya.

Wanita itu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kunci berwarna keemasan.

Beberapa detik kemudian pandanganku teralih. Sebuah kamar yang nampak usang terpampang di depanku. Aroma debu merangsek masuk ke dalam hidung. Spontan aku hendak bersin tapi tidak jadi, wanita disampingku menyernyitkan dahi lantas kami tertawa.

Bu Mala membuka kain pelindung yang menutupi sebuah kursi tunggal di ruangan itu. Menepuknya agar tidak berdebu. Perlahan, aku terpukau melihat tarian debu di bawah cahaya mentari. Lembut dan indah.

Dia menyuruhku duduk disana, memperhatikannya dengan seksama.

Ibu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s