Kaktus!

05.25 PM – tulis chat history di aplikasi hijau berlogo telepon dengan call-out di lingkarannya.

Ah meleset 25 menit dari yang sudah kami sepakati sama-sama. Sepertinya budaya Jant*ra sudah mendarah daging dalam diri kami, jadi tidak ada janjian kalau tidak pernah terlambat!

….ya, sudah biasa.

Niat hati jalan-jalan ke BEC, cari tukang service hape merk HTC. Namun gagal, sepertinya ke-omdo-an ke sekian yang sudah patut untuk ikut dimaklumi, LAGI.

Lalu jiwa keibuan kami pun keluar, tiba-tiba, tanpa diberi ijin sekalipun. Lapar mata! Apalagi saat melihat kedai Pizza dengan menu baru, penjual yang tampan, dan harga mahal (tapi bisa diatasi dengan ‘patungan’ sambil motong uang jajan untuk 5 hari ke depan) 😅

Untung masih inget ‘belum solat magrib’, jadi lapar matanya bisa sedikit teratasi. Sedikit, padahal maksudnya adalah ‘diganti’ dengan makanan seharga sama tapi lebih variatif. I think it’s the better choice, right now. Maklum, mahasiswi kere kalkulator hidupnya akurat banget 😂

Singgah ke Lotte, beli Toppoki, Ramyun, Chikuwa + para sahabatnya, Le’ Mineral, dan sebatang kebab mahils .-. dimakan panas-panas di ruangan ber-AC full dengan view cantik berupa oppa-oppa Korea berwajah mulus (kek jalan tol).

Ulin-nya belum selesai, alih-alih tidak ikut MUMAS, kami malah ikut mamang Grab ke Braga. Turun di jalan antah berantah, lalu solat isya di mesjid Laotze 2 di Asia-Afrika

….dasar si Tidak Pernah Hafal Jalan, alhasil naik Grab masih bikin kami jalan jauh hingga ke alun-alun. Niat hati ingin beli sepatu murah, malah futu-futu di dekat tong sampah warna hijau.

Ada bapak tentara, entah Satpol PP 😶 masih untuk si Mute tidak ikut dirazia, untung dia sudah insyaf dengan tidak menjajakan diri lagi di toko jam tangan merk QQ (read: menjajakan djam maksud esa wkwk).

Lalu balik lagi ke Setiabudhi, bukan buat bobo cantik, namun untuk berkunjung ke Ayam Goreng Nelongso. Tujuannya, nengok TKP waktu esa hampir pingsan gegara makan ayam plecing tambah 2 mangkok sambal super pedas.

“Gak kapok?” ku balas dengan seringai tidak tahu malu .-.

Kupikir namanya Ayam Popok 🚼 padahal Ayam Pok-pok, rasanya cukup aneh di lidah. Rasa sambalnya manis teuing, sepertinya si emang lagi beger, ingin segera cerai dan kawin lagi.

“Ah manis!” ucapku kecewa.

“Manis?” tanya Mute dengan wajah tidak terima.

“Iya, manis”

Ai maneh, pedes oge!”

Enya, maksudnya iya emang pedes. Tapi sambelnya juga manis, jadi gak enak”

“Haduh, gimana kamu aja dah esa” balasnya pasrah begitu saja.

Mumpung masih belum kambuh, segera pesen secangkir teh dan susu putih PANAS. Pesen sendiri, mumpung masih bisa jalan.

“Tenang we, Sa! Ada Mut, nanti kalo tumbang gak akan malu-maluin LAGI” tiba-tiba ingatan itu balik lagi.


‘Iya, malu pisan!’

Jadi waktu itu esa balik dari Caheum, terus makan sendirian di Ayam Nelongso. Lupa kalau belum sarapan! Padahal sudah habis lebih dari 3 porsi sambal, tiba-tiba ulu hati seakan ditusuk dengan sadis. Rasa sakit menjalar hingga ke ubun-ubun, sakit kepala mirip vertigo

….lalu mual, kaki dan kepala kram sampai hampir mau pingsan. Minta tolong sama si teteh, lalu ditungguin di mushola sama Devi datang dianter sama mamang-mamang Grab Bike.


Selesai makan, kami masih sempet-sempetnya buat ngobrol. Tentang apapun, kayak biasa. Lalu balik ke kosan esok harinya, 12.15 AM sepertinya.

Ah iya, silahkan. Oleh-oleh kaktusnya boleh diambil dan dibawa pulang, save aja di galeri hape kamu, esa ikhlas gak usah sungkan 😁

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s