Saling Menyelamatkan.

Kadang, semua kesedihan itu tercekat di tengah kerongkongan yang kering. Memaksa untuk dicairkan dalam bentuk tangis yang tidak berkesudahan.

Lalu, seperti yang selalu saya lakukan. Mengusap dada dengan lembut atau merenggut ujung baju sebagai bentuk pertahanan diri agar tidak jatuh di sembarang tempat.

Sering saya benar-benar emosional, merasa ditinggal atau tidak dipahami. Apalagi oleh orang-orang yang lebih dulu menyatakan diri sebagai ‘kakak’ ketemu gede yang selalu berhasil menjilat air ludahnya sendiri.

Saya merasa diintimidasi, oleh keinginan dan ketidak pahaman mereka mengenai hidup dan kehidupan yang sedang saya jalani.

Hingga kemudian Tuhan, sahabat terbaik saya – berbisik lembut dan berusaha untuk menenangkan batin yang kacau.

Sampai ‘ah sudahlah’ dan ‘sabar ya’ menjadi dua kalimat pamungkas untuk mengakhiri pertikaian batin

“….mungkin mereka pernah mengalami masalah yang lebih berat dari yang sedang saya alami saat ini. Jadi banyak-banyaklah memberi dan meminta ampun”.

Kalau begitu, ampuni saya ya teman sayang. Ampuni kalau banyak dosa, yang disengaja atau tidak. Maka mari saling menyelamatkan di kampung akhirat-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.