Untuk Tuan, Lagi.

Sungguh, terima kasih karena sudah turut menemani usaha untuk saling melupakan (kata-kata yang tidak pernah bisa ditarik).

Saya, tentu masih akan sangat senang berdiam diri lama-lama di depan layar gawai, menatap laman chat yang tidak pernah ramai oleh deretan huruf apapun.

Sebagai penggemar yang tidak lagi ‘rahasia’, saya sudah cukup bahagia hanya dengan melihat status WA tuan dihiasi oleh tulisan ‘online’.

Menarik, dan saya tertarik sambil melafalkan deretan sholawat atau kalimat-kalimat syahdu lain sebagai alarm untuk mengingat ke-Maha Romantis-an Tuhan.

Iya, saya yakin 1000% kalo Ia adalah Sang Maha Pembuat Skenario paling romantis sejagad raya. Lalu, suatu hari nanti saya akan dapat jatah ‘hidup romantis’ dengan waktu, tempat, dan orang yang paling tepat.

Kadang saya berdoa semoga ia adalah tuan, yang turut menanti saya dalam barisan diksi bisu yang hanya mampu diketik atau dilamunkan bersama sunyi malam.

Saya, mencintai tuan dalam kuat dan rapuh saya. Saya, menginginkan tuan dalam diam dan ramai hidup.

Saya, ingin turut menjadi seseorang yang akan tuan rapal namanya dalam keadaan yang paling ikhlas.

Ah, andai keberanian saya lebih besar dari rasa malu ini – mungkin sekarang tuan sedang kelu, kehabisan kata setelah membaca pesan absurd dari Bandung. Tepatnya, dari kosan Pak Hidayat (mantan RW dari Kelurahan Cidadap).

It’s seven years and still counting ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.