Scientia dan Padalarang

Selalu ada cerita menarik ketika secara sengaja melewati belokan tajam Padalarang.

Selain karena kemacetan yang selalu bikin Feby deg-degan karena takut ditinggal travel, juga karena pertengkaran Vaness dan Alivan yang selalu dimulai oleh hal-hal sepele, atau diskusi transplantasi kepala yang ditolak mentah-mentah oleh Mari dan Nanda, sekarang?

Tiba-tiba Welly buka jendela, lalu debu-debu jalanan saling sikut karena pengen ikut masuk ke angkot. Sontak kami sedikit terganggu, debu halus berwarna putih pucat itu jelas membuat pernafasan kami cukup terganggu.

Lalu dengan sigap Welly menutup kembali jendelanya, ingin kubunuh rasa bersalah yang tersirat di wajahnya yang oriental.

Karenanya, Muncul obrolan super singkat seperti ini:

“Sedih banget yak tinggal disini, tiap hari harus nyapu terus!”

“Haha, iya”

Lalu aku asyik menatap tebing-tebing eksokarst yang pagi ini cantiknya bukan main.

“Eh liat deh, bagus ya jadi kayak ada kabut gitu di deket tebingnya. Padahal asap, bukan kabut”

“Iya”

Sudah, mungkin nanti sore akan ada cerita yang lebih menarik. Kita tunggu saja šŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s