Alasan Sebuah Perjalanan.

Namanya Yesi (21 tahun), Jurusan Komunikasi di Universitas Terbuka Jakarta. Aku menemuinya di Stasiun Kebumen yang sunyi, bersama langit pagi yang kebiruan, dan kereta tujuan Yogya yang lama tak kunjung datang.

“Sebenernya UT itu anaknya UNJ loh kak” katanya dengan mata berbinar.

“Oh iya?” tanyaku penasaran.

“Iya, jadi sebenernya dulu nama dia itu UNJ Terbuka. Dia didirikan buat orang-orang yang pengen masuk negeri tapi gak punya duit”

“Lah, emang SPP kamu per semesternya berapa?” aku berusaha menimpali.

“2,5 juta”

“Oooh” dalam hati, kutimpali begini ‘lah, di UPI masih bisa lebih murah kalo kita masukin data pendapatan orangtua dengan nominal yang lebih kecil’. Eh tapi tidak berani kubalas begitu wkwk.

“Sistem belajarnya juga online loh kak” serunya menambahkan.

“Wah, bagus dong. Rame”

“Ah nggak kak, pusing” gerutu Yesi dengan senyum tipis.

“….”

“Jadi kita kuliahnya cuma Sabtu sama Minggu aja, di Rawamangun. Terus nanti kita dikasih video tutorial sama tugas-tugas secara online, ngerjain dan ngirimnya juga online”

“Sekarang kamu mau kemana?”

“Mau ke Yogya kak!” serunya girang.

“Ngapain?”

“Mau ke Malioboro, makan gudeg sama snapgram biar orang-orang tahu kalo aku lagi di Yogya”

“….” tiba-tiba hatiku menciut, lalu muncul pertanyaan besar ‘apa aku sedang berbincang dengan salah satu penggagas Generasi Tik-tok?’


Well, aku tahu kalau setiap orang punya alasan masing-masing untuk memulai penjelajahan

….ada yang menggunakan alasan logis, ada yang tidak. Hanya menurut-Nya, kita tidak sepatutnya menjadikan hasrat pamer sebagai alasan utama untuk berjalan di bumi Allah (Q.S. Luqman: 18)

Ah iya, karena Tuhan pernah berbisik:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18).

Jangan lupa baca artikel ini juga ya ✋👌

Iklan

Potret Lawas di Stasiun Gombong.

Masih pukul 04.00 pagi, saat orang-orang itu berbondong-bondong menuruni tangga kereta. Membawa serta perbekalan dan oleh-oleh untuk sanak saudara di tempat tujuan.

Mungkin, beberapa puluh tahun kemudian – potret ini akan turut difilmkan. Entah bercerita tentang kisah cinta nenek-nenek mereka, atau kisah perjuangan bangsa Indonesia melawan serbuan hoax dan hate speech yang sedang hits akhir-akhir ini.

Film yang akan ditayangkan, mungkin selayak film-film lawas di zaman Rhoma Irama dan Meriam Bellina tempo dulu. Bedanya, film kita adalah hasil editan segenre VSCO. Mungkin sih, kalo tidak percaya ya sudah lah.

Ditulis dari Stasiun Gombong, dalam perjalanan panjang yang menyenangkan.

Stasiun dan Lagu-lagu Klasik.

Sepertinya, para penunggu stasiun benar-benar menyukai lagu klasik

….dengan judul dan penyanyi lagu yang sama!

Atau, mereka memang mendapat mandat khusus untuk memutar lagu-lagu tersebut. Eh, apa tidak bosan 😂

Jika diberi kesempatan untuk memilih, anak muda zaman sekarang, mungkin sudah sangat kegirangan

….ingin memutar lagu barat sampai sekian album penuh.

Jadi, sudah bisa ditebak kan? Selera semacam apa yang akan kamu nikmati di beberapa stasiun kereta api di Jawa Tengah?

….ya khususnya stasiun-stasiun yang akan mengantarmu ke perbukitan karst Gombong Selatan. Kalo gitu, selamat jalan-jalan! 💪

Para Penunggu Stasiun – Kroya.

Beberapa nada piano berbunyi tiba-tiba, lalu diikuti oleh suara seorang perempuan, lagi!

….masih menyanyikan lagu lawas, tentang tanah air Indonesia dan semua potensi keindahannya. Kemudian suara seorang bapak dari meja informasi menyela lagu tersebut, memberi tahu orang-orang kalau “kereta api Lempuyangan sebentar lagi akan melaju di jalur 3”.

Eh iya, kamu tahu tidak? Saat detik ini beberapa dari kita sedang asyik tidur di kasurnya yang empuk, ada beberapa penunggu stasiun yang begadang demi menjaga ketertiban jalur kereta api Indonesia.

Mereka, adalah orang-orang yang rela kerja lembur (bagai quda 😂) agar semua pemudik bisa sampai di tempat tujuannya dengan selamat. Mereka, adalah orang yang rela menjual hari liburnya demi liburan panjang para penumpang kereta api. Hebat gak tuh perjuangannya? Keren ya!

Maka, mari turut doakan semoga Tuhan meridhoi semua pekerjaan para penunggu stasiun ini. Pun semoga doa yang sama kembali kepadamu. Aamiin, semoga Tuhan selalu bersama orang-orang yang perhatian 💕

Gara dan Bahasa Ayam.

Kemarin siang, adik saya marah-marah sama Abah. Katanya, “Abah ih dedek mah pengen ngasih makan ayam. Abah mah meuni gak boleh

….lalu setelah merajuk hingga beberapa kali, permohonan itu kemudian disetujui dengan terpaksa. Maklum, mungkin Abah saya khawatir kalau anak bungsunya akan jatuh ke kolam ikan yang dalamnya beberapa kali lipat dari tubuh si gempal.

Siang yang panas di Sukabumi, adalah waktu yang pas untuk mengangkat jemuran baju di lantai dua.

Tidak sengaja, saya ikut memperhatikan tingkah polos dari bocah kecil itu. Adik yang baru diwisuda di salah satu PAUD itu memberi makan ayam dengan terlebih dahulu berbincang seru dengan mereka.

Wah, hebat! Mungkin dia paham bahasa ayam, atau dia mengerti bagaimana cara yang baik untuk memberi makan ayam

….apa semacam anestesi agar para ayam itu tidak stres memikirkan kematian mereka yang tinggal beberapa bulan lagi?

Eh, untung ayam tidak se-futuristik manusia ya. Kebayang dong kalau mereka juga punya ambisi untuk kuliah, S1, S2, menikah, kerja, baru mau punya anak, rumah, dan mobil mewah.

Haha, apaan banget sih ini 😅

Anyway, sebenernya saya sedikit iri sama anak kecil. Mereka bisa asyik ngobrol sama semua komponen alam raya, tanpa takut untuk ditertawakan oleh netizen 😂

….beda sekali dengan orang dewasa, yang harus banyak mikir untuk memenuhi khayalan liar dari sudut terdalam di otaknya. Padahal, selama hal itu tidak bertentangan dengan norma, membuat senang, dan me-refresh isi otak – KENAPA NGGAK YE GAK? 👻

Lagu Klasik di Stasiun Maos.

Jika kalian ada disini, mungkin Stasiun Maos turut akan mengajak kalian bernostalgia dengan lagu-lagu klasik yang lawas sekali.

Suara seorang perempuan dengan nada tinggi, menyanyikan lagu-lagu cinta di jam 2.48 AM, lalu diselingi beberapa sirine khas kereta api, baur!


Padahal aslinya saya seorang penakut, tapi malam ini rasa penasaran selalu mengalahkan semuanya.

Saya selalu senang menengok ke luar jendela, walau kadang tak pernah bisa menerka apa-apa, tapi ini cukup menyenangkan.

Mungkin tempat atau suasana gelap akan membuat beberapa orang dari kita sulit bernafas, stress, bahkan kehilangan kesadaran. Eh, saya jadi ingat kalau ternyata ada salah satu senior di OPA saya yang juga punya ‘phobia tempat gelap dan sempit’ seperti itu

….hmm, tidak bisa dibayangkan bagaimana dia bisa lulus diklat. Kalau pun ditoleransi, pasti tekanan dari Tatib tidak mudah. Hebat!


Ngomong-ngomong, sebenarnya saya tidak tahu Stasiun Kebumen itu sebelah mana. Jadi saya juga tidak tahu kapan harus turun dari kereta ini. Ah konyol kan 😂

Membelenggu Ingatan.

“Bagus lembahnya ya kak, kayak peti harta karun, itu yang berkilau teh kayak perhiasan-perhiasannya” seruku dengan nada keras, berusaha melawan deru angin yang dibelah oleh sepeda motor.

“Ah dasar tukang khayal, mana ih da biasa aja” balas Surya sekenanya.

“Itu ih, makanya harus dihayati geura”

“….” lalu Surya diam, padahal tengah turut menggambar peti harta karun itu di dalam otaknya.


Sejenak, nyanyian Kutojaya tidak lagi terhiraukan. Bayangan Surya muncul tiba-tiba, dan saya jelas tidak bisa mengelak, lagi.

Celaka lah seluruh ingatan ini, sungguh baik budi Aray jika mau menerima sosok sehina ini

….yang pernah terikat oleh beberapa nama, secara diam-diam, atau yang pernah terekspos hingga ke muka publik.

Aray, saya jelas bukan sosok yang baik!


“Kita bisa memiliki raga seseorang, tapi tidak bisa memiliki jiwanya.

Kita bisa membelenggu seseorang, tapi tidak ingatannya”

Aku percaya bahwa mekanisme cinta yang dibangun semesta tidak pernah meleset.